Laboratorium atau singkatnya “Lab” merupakan salah satu fasilitas penting yang idealnya layak tersedia di sekolah-sekolah. Tempat ini bukan sekadar ruang belajar bagi para siswa, tapi juga wadah bereksperimen untuk membuktikan fakta yang ada di dalam konsep-konsep teori keilmuan. Jangan heran jika tempat ini memuat banyak sekali peralatan atau aneka bahan kimia untuk menunjang kegiatan penelitian.
5 Kesalahan Umum Saat Membangun Lab Sekolah
Tidak sama dengan kelas belajar biasa, lab tergolong tempat berisiko tinggi. Di samping memerlukan pengawasan ketat saat siswa-siswa praktik, pembangunan lab sekolah juga harus mematuhi standar keamanan. Misal, tata letak furnitur harus ergonomis, sistem sirkulasi udara memadai, akses keluar-masuk yang cukup mudah dan lebar, ketersediaan penerangan, sumber air terdekat, dan lain sebagainya.
Namun, pada kenyataannya masih banyak lab yang tidak mengikuti standar keamanan yang semestinya. Adapun, 5 kesalahan kesalahan umum saat membangun lab sekolah ialah sebagai berikut.
Ruang Lab Terlalu Sempit atau di Bawah Standar yang Berlaku
Terkait berapa luas ruangan yang ideal untuk pembangunan lab sekolah sebenarnya sudah termuat dalam Permendikbudristek Nomor 22 tahun 2023. Dalam peraturan tersebut sekurang-kurangnya luas lab sekolah 2,4 m2/per orang. Ini rasio yang paling logis agar siswa tetap aman dan nyaman bergerak saat praktikum berlangsung. Jika daya tampung rata-rata 20-25 orang pengguna maka ukuran luas standarnya 48 m2.
Nah, kesalahan yang umum terjadi pendirian lab sekolah tidak mengindahkan standar ukuran yang semestinya. Kebanyakan karena alasan ketersediaan lahan yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk membangun lab lebih luas. Sehingga dalam hal ini lab sekadar sebagai pelengkap infrastruktur sekolah meskipun mengesampingkan sisi keamanan dan kenyamanan.
Layout yang Terkesan Sembarangan
Layout atau tata letak juga seringkali jadi problem serius yang cukup sering terjadi dalam pembangunan layout. Biasanya karena tidak melibatkan kontraktor profesional.
Pembangunan lab tidak sesederhana kelas berbentuk persegi. Layout lab mestinya terkonsep lebih rapi. Terdapat sekat-sekat yang memisahkan antara ruang kerja siswa dengan penyimpanan alat-alat dan bahan-bahan berisiko.
Penempatan pintu dengan akses yang mudah dan menghadap area terbuka yang luas. Tak lupa ketersediaan ventilasi sebagai sirkulasi udara. Layout yang tepat meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja akibat benturan atau ledakan.
Sayangnya, dapat dipastikan belum semua layout lab sekolah yang benar-benar dipersiapkan secara matang. Bahkan sebagian ada yang sekadar mengalihfungsikan kelas biasa menjadi lab.
Furnitur Lab yang Tidak Ergonomis
Bentuk kesalahan berikutnya adalah menempatkan dan menggunakan furnitur yang tidak ergonomis untuk kebutuhan kerja. Misalnya, lemari penyimpanan yang terlalu tinggi (tidak menyesuaikan dengan tinggi rata-rata orang Indonesia), terlalu rendah, atau posisi alat kerja terlalu jauh dari jangkauan tangan. Masalah ini memang tampak sepele, padahal ini justru berisiko menimbulkan cedera atau kelelahan lebih awal saat berkegiatan.
Selain itu, masih banyak lab sekolah yang menggunakan furnitur-furnitur bermaterikan yang mudah terbakar. Juga furnitur-furnitur yang kurang kokoh. Mengingat lab adalah ruangan belajar yang cukup berisiko jika tidak hati-hati, maka sangat disarankan menggunakan furnitur yang terbuat dari material tahan api dan tidak mudah terkontaminasi bahan kimia.
Tidak Menyediakan Alat/Perlengkapan Keselamatan
Tidak menyediakan alat/perlengkapan keselamatan di dalam.lab adalah bukti abainya pihak sekolah terhadap keselamatan siswa-siswanya. Untuk kesekian kali, perlu kita pahami bahwa kegiatan praktikum di lab memiliki risiko-risiko buruk yang tidak dapat diprediksi kapan bisa terjadi. Pengawasan ketat dari guru pembimbing juga ketersediaan perlengkapan keselamatan adalah bentuk dari tindakan preventif meminimalkan risiko.
Adapun alat atau perlengkapan tersebut dapat berupa kotak P3K beserta isinya, tabung pemadam kebakaran (APAR), pancuran/keran air, tempat sampah organik dan anorganik, dsb.
Instalasi Kelistrikan yang Tidak Rapi dan Benar
Untuk mendukung kegiatan di dalam lab, tentunya ruangan ini membutuhkan sambungan listrik. Hanya saja seringkali instalasi kelistrikannya tidak terpasang dengan benar atau bukan dipercayakan pada teknisi profesional. Tambah lagi maintenance kelistrikan di lab kurang mendapat perhatian lantaran pada sebagian sekolah pemakaian ruangan ini tidak sesering kelas biasa.
Standar Keamanan serta Apa Saja Bahaya yang Ada di Laboratorium Sekolah
Adapun untuk standar keamanan lab sekolah sebenarnya sudah dibahas sekilas pada paragraf-paragraf sebelumnya, meliputi:
- Ukuran ruangan sebanding dengan daya tampung siswa beserta furnitur di dalamnya. Seminim-minimnya ruangan lab memiliki luas 48 m2 dengan daya tampung sekitar 20-30 orang di dalamnya. Untuk daya tampung lebih daripada itu tentu ruangan yang diperlukan harus lebih besar lagi.
- Layout yang terstruktur untuk membagi antara ruang kerja, penyimpanan instrumen, dan sebagainya.
- Instalasi listrik yang aman dengan kapasitas daya sekurang-kurangnya 2200 watt. Untuk lab komputer bahkan memerlukan daya listrik lebih daripada itu karena penggunaan puluhan komputer sekaligus dalam satu waktu.
- Furnitur terbuat dari material yang kuat, tahan panas, anti korosi, dan rata (tidak bertekstur) agar mudah dibersihkan selepas digunakan.
- Tersedia berbagai alat/perlengkapan keamanan sekurang-kurangnya seperti APAR, APD, kacamata pelindung, pancuran air, dan kotak P3K.
Standar pembangunan lab yang aman dapat menurunkan risiko timbulnya bahaya yang tidak diinginkan selama penggunaan ruangan ini sebagai sarana belajar-mengajar.
Mencakup apa saja bahaya yang ada di laboratorium sekolah, antara lain:
Bahaya Bahan Kimia
Laboratorium, khususnya lab sains, identik dengan bahan-bahan kimia di dalamnya. Lab ini memang berfungsi sebagai tempat eksperimen ilmiah. Paparan bahan-bahan kimia ini dapat menimbulkan bahaya fisik ataupun non fisik, seperti iritasi mata, kulit, sesak napas, luka terbuka, hingga ledakan. Itu mengapa saat berada di lab sains disarankan menggunakan pengaman seperti APD, masker hidung, dan sarung tangan.
Bahaya Radioaktif
Ada juga yang sifatnya berupa radiasi radioaktif dari alat-alat yang memancarkan sinar X dan sinar Gamma. Kebanyakan efeknya memang tidak terasa seketika, tetapi dampak kerusakan dari radiasi ini akan terasa di masa-masa mendatang. Terlebih bila radiasinya intens.
Bahaya Kebakaran
Bahaya kebakaran dapat terjadi karena korsleting listrik akibat instalasi yang tidak benar atau kurangnya maintenance. Pemakaian daya yang melebihi kapasitas juga bisa membuat listrik “overload” dan menimbulkan ledakan yang berakhir dengan kebakaran. Selain listrik, bahaya kebakaran dapat berasal dari pemakaian bahan-bahan kimia yang tidak tepat fungsi saat praktikum.
Bahaya Ergonomis
Bahaya ergonomis berhubungan dengan cedera tubuh akibat postur yang tidak benar saat berkegiatan di dalam lab. Entah itu karena kursi yang terlalu tinggi daripada meja sehingga membuat punggung terlalu membungkuk. Bisa juga keseleo akibat menjangkau benda-benda berat yang letaknya terlalu tinggi dari jangkauan.
Secara keseluruhan kesalahan umum saat membangun lab sekolah ini akan berdampak pada tingginya tingkat risiko bahaya dalam penggunaan lab tersebut nantinya. Semoga mulai dari sekarang sekolah-sekolah di Indonesia mulai memperhatikan kelayakan laboratorium masing-masing mulai dari tahap pembangunan hingga perawatannya.
