Standar Jalur Exhaust dan Airflow Laboratorium

Jalur exhaust atau pembuangan dan aliran udara merupakan komponen dalam sistem ventilasi lab. Standar jalur exhaust dan airflow laboratorium ini bisa mengikuti berbagai regulasi yang sudah ada. Standar lokal terkait sistem ventilasi ruangan di Indonesia juga mengadopsi standar internasional. Sistem yang sesuai standar bisa membantu menjaga keselamatan dan keamanan di laboratorium.

Baca Juga: Panduan Mendesain Laboratorium Biologi, Kimia, dan Fisika

Lokasi Pemasangan Exhaust Fan

Lokasi pemasangan sistem pembuangan udara dan airflow lab harus sesuai dengan standar yang ada. Instalasi yang tepat akan menciptakan lingkungan lab yang lebih aman dan efisien. Berikut ini beberapa panduan pemasangan sistem exhaust fan dan airflow di laboratorium.

Lokasi Lemari Asam

Adapun untuk lokasi lemari asam perlu jauh dari area lalu lintas tinggi, jendela yang bisa terbuka, pintu, serta berjarak minimal 3 meter dari diffuser AC. Lokasi ini perlu agar bisa mencegah guncangan udara yang bisa mengganggu kinerja fume hood. Selain itu, sebaiknya tidak menempatkan dua fume hood berhadapan atau bersebelahan. Tempat yang terlalu dekat ini bisa mengurangi efektivitas perangkat.

Lokasi Biological Safety Cabinet

BSC atau biological safety cabinet perlu jarak yang cukup, minimal 30 cm dari langit-langit. Jaraknya dari meja minimal 51 cm untuk memastikan aliran udara lancar atau tidak terhambat.

Kisi-Kisi dan Diffuser Ruangan

Lokasi kisi-kisi dan diffuser perlu menciptakan pola aliran udara dari bersih ke kotor. Kisi-kisi pembuangan atau exhaust grille biasanya berada di langit-langit atau dinding dekat langit-langit.

Ini sesuai prinsip fisika bahwa udara hangat dan polutan cenderung naik. Sementara Itu, diffuser pasokan berlokasi di langit-langit. Ini sesuai dengan Coanda Effect yaitu kecenderungan udara menempel pada permukan langit-langit lalu menyebar sebelum turun.

Saluran Udara (Ducting)

Pemasangan saluran udara perlu mengkuti aturan yang ketat. Saluran ini membawa udara di dalam lab menuju sistem pembuangan di luar. Beberapa aturannya misalnya soal kemiringan saluran horizontal minimal 2,5 cm per 3 meter. Adanya aturan ini untuk mencegah genangan cairan akibat kondensasi. Selain itu saluran dari fume hood bisa bergabung, titiknya hanya boleh di ruang tahan api atau luar gedung.

Baca Juga: Standar Furniture Laboratorium untuk Pabrik Farmasi

Exhaust Fan dan Cerobong

Exhaust fans atau kipas perlu berada di ujung sistem pembuangan, yaitu di atap. Lokasi ini mencegah kebocoran udara berbahaya ke dalam ruangan. Cerobong harus cukup tinggi minimal 7 kaki di atas atap. Cerobong pembuangan ini perlu memiliki jarak aman dari air intake gedung seperti jendela, pintu, dan lainnya. Jaraknya bisa tergantung jenis labnya, semakin berisiko tinggi maka perlu lebih jauh.

Aliran dan Pembuangan di Ruangan Bertekanan Negatif

Pada laboratorium dengan risiko tinggi, semua ruangan menggunakan prinsip negative pressure. Arah aliran udara harus dari area risiko lebih rendah (koridor) menuju area risiko lebih tinggi (lab). Perangkat seperti diffuser dan kisi-kisi pembuangan berada di tempat strategis untuk menciptakan efek sapuan. Ini memastikan bahwa tak ada dead zones yaitu tempat kontaminan bisa menumpuk.

Apakah Exhaust Fan Sama dengan Ventilasi? Exhaust fan dan ventilasi merupakan dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. Istilah ventilasi bisa merujuk pada sistem aliran udara secara keseluruhan. Sementara exhaust fan merupakan salah satu perangkat dalam sistem ventilasi tersebut.

Exhaust fan merupakan komponen utama dalam ventilasi laboratorium. Sistem ventilasi di lab tak dapat berfungsi tanpa adanya exhaust fan yang biasanya berada di bagian atap. Fungsi exhaust fan sendiri untuk menciptakan tekanan negatif sehingga udara kotor masuk ke lemari asam.

Sistem ventilasi tak hanya terkait dengan sistem pembuangan seperti exhaust fan tapi juga pasokan udara. Ventilasi yang baik tak hanya membuang udara kotor namun juga memasukkan udara bersih melalui AC atau AHU.

Exhaust fan yang ada di laboratorium biasanya berupa perangkat besar yang terintegrasi dengan sistem ventilasi bertekanan negatif. Sistem ventilasi ini perlu ada perhitungan laju aliran, pola arah aliran udara, dan penyaringan sesuai dengan standar.

Risiko Kesalahan Desain Airflow

Desain airflow atau sistem aliran udara di lab perlu sesuai standar agar keselamatan orang di dalamnya terjamin.

Desain airflow atau sistem aliran udara di lab perlu sesuai standar agar keselamatan orang di dalamnya terjamin. Kesalahan desain tak hanya terkait dengan kenyamanan namun bisa berupa risiko membahayakan. Berikut ini beberapa risiko kesalahan desain airflow di laboratorium.

Risiko Paparan Zat Berbahaya

Desain yang buruk bisa menyebabkan kontaminan tak tersedot ke exhaust atau pembuangan. Ini bisa mengakibatkan “reverse flow” di area kerja. Uap atau gas berbahaya yang seharusnya terbuang bisa terlempar balik ke wajah personel yang berada di dekat lemari asam atau diffuser. Paparan bahan kimia tersebut bisa memberikan risiko kesehatan dalam jangka panjang, misalnya kanker.

Kontaminasi Silang

Kesalahan arah aliran udara bisa memberikan masalah pada validitas hasil penelitian. Misalnya udara yang terkontaminasi masuk ke ruang penelitian sehingga menimbulkan kesalahan hasil tes. Kontaminasi udara bisa juga pada sampel DNA yang menyebabkan barang bukti mendapatkan penolakan dari pengadilan.

Kebakaran dan Ledakan

Aliran udara yang tidak lancar bisa menciptakan zona mati sehingga uap pelarut organik mengendap. Adanya konsentrasi uap bisa menyebabkan percikan kecil atau listrik statis yang bahkan bisa memicu ledakan atau kebakaran. Kesalahan lain seperti saluran pembuangan yang terlalu panjang serta banyak belokan juga akan menyebabkan kondensasi. Ini bisa memicu ledakan di atas langit-langit laboratorium.

Reaksi Kimia Tak Terkendali

Desain airflow menentukan jenis materialnya, jika salah perhitungan maka sistem ventilasi tersebut malah bisa jadi sumber bahaya. Misalnya kesalahan menggunakan material saluran stainless steel untuk pembuangan asam perklorat. Uap asam perklorat kering akan membentuk kristal pada dinding saluran. Kristal tersebut sensitif terhadap gesekan dan getaran. Ini bisa memicu ledakan dalam saluran.

Kegagalan Sistem

Sistem ventilasi yang mengalami kegagalan dalam beroperasi bisa mengakibatkan bahaya. Tak hanya soal arah angin tapi juga terkait keseimbangan tekanan. Misalnya jika lab menjadi bertekanan positif karena AC lebih kuat dari exhaust. Hal ini bisa memicu udara mendesak keluar melalui celah pintu. Orang yang lewat di koridor bisa menghirup udara berbahaya tanpa masuk ke dalam lab.

Udara Kotor yang Masuk Lagi

Di lab lama, masalah ini biasanya kerap terjadi. Penyebabnya karena kesalahan desain seperti pemasangan cerobong yang terlalu dekat atau sejajar dengan tempat masuk udara. Akibat dari kesalahan ini yaitu udara berbau atau yang mengandung zat buangan akan kembali lagi dan terhirup personel di dalam lab.

Sanksi Hukum

Desain yang tak memenuhi standar bisa memiliki risiko hukum. Sistem ventilasi dan exhaust yang tak sesuai standar di Indonesia bisa mendapatkan sanksi. Tentunya sanksi tersebut bisa bersifat administratif tapi ada juga yang sampai pidana. Kelalaian manajemen lab yang menyebabkan kecelakaan bisa mendapat ancaman hukum pidana seperti penjara.

Baca Juga: Daftar Furniture Wajib untuk Laboratorium Sekolah

Jadi ada banyak risiko yang cukup berat jika ada kesalahan pada sistem ventilasi lab. Manajemen lab perlu mengikuti regulasi dan menerapkan standar jalur exhaust dan airflow laboratorium. Desain yang tepat sesuai dengan standar akan meminimalkan risiko dan mendukung keselamatan kerja. Selain itu penting juga melakukan audit berkala dan perawatan sistem secara rutin.

Leave a Comment